Moralitas Remaja di Tengah Arus Globalisasi dan Industriaslisasi

Moralitas Remaja di Tengah Arus Globalisasi dan Industriaslisasi

Di tengah carut marutnya kehidupan berbangsa dan bernegara, moralitas ditengarai menjadi penyebab rengkahnya tatanan sosial masyarakat. Bergulirnya iklim demokrasi yang membawa iklim kebebasan berjalan kebablasan. Tantangan berat bukan saja permasalahan kemiskinan, konflik sosial yang kian mengakar, Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yang makin hari kian akut menggerogoti bangsa, tetapi juga moralitas generasi muda yang kian pudar.  Generasi muda yang merupakan SDM masa depan bangsa malah menjadi ancaman bagi keberlangsungan bangsa. Secara sederhana, moral dalam KBBI dideskripsikan sebagai  ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi perkerti, susila. Sedangkan moralitas yaitu perbuatan dan tingkah laku yang baik; kesusilaan.

Arus globalisasi dan industrialisasi yang tak terbendung makin hari semakin menutup kearifan lokal dari ingatan generasi muda. Kearifan lokal, kini seolah menjadi mitos yang mengarah kepada mistisme, dan dianggap jauh dari peradaban moderen ala Barat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata tidak mampu memberikan rangsangan kecintaan terhadap kearifan lokal dan moralitas sebagai karakteristik bangsa. Agama yang menjadi benteng pun hanya sebatas teori tanpa ada pemahaman dan rutinitas yang bersifat aplikatif.  Pemahaman terhadap budaya dan sejarah yang setengah-setengah, serta pudarnya semangat lokalitas dan nasionalitas semakin mendukung rengkahnya moralitas kawula muda.

Ponorogo, kota kecil yang dikenal dengan sebutan kota santri dan kental dengan budaya Reog ini,rupanya tidak lepas dari permasalahan moralitas para generasi mudanya. Seperti dilansir REPUBLIKA.CO.IDSabtu, (18/12/2010), bahwa data terakhir yang dikeluarkan Ketua Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) Ponorogo, 80% remaja putri pernah melakukan hubungan badan pra-nikah.Angka yang mengkhawatirkan, meskipun belum final. Apabila data tersebut dihimpun tahun 2010, lantas bagamana dengan perkembangan di lapangan tahun 2013 ini? Kota yang besar karena budaya Reog dan Gotor ini, dihadapkan dengan permasalahan serius terkait penanggulangan moralitas dan menjamurnya budaya kurang produktif bagi kawula mudanya.

Terlepas dari pembenaran akan data tersebut, yang di lain sisi menimbulkan kecemasan bagi masyarakat dan juga dapat memancing remaja lainnya untuk melakukan hubungan di luar nikah, permasalahan moralitas harus mendapatkan perhatian dan penanganan serius. Diakui atau tidak, globalisasi (informasi) dan industrialisasi turut andil dalam terjadinya demoralisasi pada kawula muda dewasa ini. Apabila hal ini dibiarkan berlarut-larut, tidak dipungkiri lagi bahwa generasi muda sebagai investasi masa depan adalah ancaman besar.

Harus Bersinergi

Sebagai penulis yang tentunya juga bagian dari kelompok pemuda, menyadari betul akan kondisi yang tak menentu dan seolah kehilangan arah dan pegangan ini. Di banyak pihak, menyuarakan moralisasi pemuda kedepan, tetapi di sisi lain juga tak lepas dari ‘demoralisasi’ itu sendiri. Kita harus mempertanyakan kondisi rill di masyarakat yang sebenarnya. Ikon kota Ponorogo yang  sarat akan kota santri dan berbudaya ini jangan sampai kembali tercoreng dengan kegiatan amoral yang kontraproduktif. Ponorogo berkembang kian pesat. Hal itu ditandai dengan banyaknya aspek sosial, budaya yang semakin maju, juga dunia pendidikan dengan banyaknya pondok pesantren, instnasi pendidikan negeri maupun swasta, serta bimbingan belajar lainya. Namun demikian, pengelolaan dan penegembangan pemuda yang sarat akan moralitas belum sepenuhnya bisa terpenuhi. Penempaan remaja, baru dalam sisi intlektualitas dan belum sepenuhnya masuk pada aspek moralitas yang digandrungkan pada setiap visi dan misi instansi pendidikan.

Langkah kongkrit dari Pemkab Ponorogo pun dirasa masih kurang dalam memberikan pembinaan, pengayoman, dan penyuluhan, terkait permasalahan moralitas kawula muda. Karena pemerintah juga punya andil besar dalam mempersiapkan generasi muda, untuk masa depan bangsa. Siklus politik yang kurang mendidik juga dapat memberikan pengaruh terhadap mentalitas dan moralitas pemuda. Betapa tidak, bila para pemimpin yang bertengger di puncak kekuasaan juga memiliki moralitas yang tidak dapat dijadikan panutan. Pengaruh lingkungan dan keluarga tak luput juga jadi perhatian. Pengawasan dari keluarga yang kurang dan aspek lingkungan serta pergaulan yang tidak produktif, sudah barang tentu memberikan pengaruh yang besar bagi pembentukan dan perkembangan sikap¬-mental remaja yang bermuara pada moralitas. Akan tetapi tak jarang juga, peran keluarga yang seharusnya menjadi mentor dan monitoring, malah menjadi penyebab terjerumusnya generasi muda pada kasus moralitas.

Sinergitas antara pemerintah, instantsi pendidikan, masyarakat, tokoh agama, dan keluarga sangat diperlukan guna nenanamkan nilai-nilai budaya lokal, keagamaan, sejarah, dan budaya. Penanaman ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat dan sarat akan budaya lokal yang menyeluruh dan komperhensip. Membangun dimensi kedewasaan dalam menghadapai arus globalisasi dan industrialisasi, sehingga kawula muda tidak lagi terjerumus dalam kegiatan amoral yang kontra produktif. Rancangan strategi serta implementasi dari program pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan moralitas, tentu harus dibarengi dengan konsistensi yang berkesinambungan. Sekali lagi, bahwa persoalan moralitas adalah persoalan kita bersama. Sehingga kiranya tidak perlu saling tuding dan lempar tanggungjawab, karena kita semua bertanggung jawab atas generasi muda bangsa.

Just another Students.uii.ac.id Blogs site

Twitter widget by Rimon Habib - BuddyPress Expert Developer